Jadi Team Leader

Beberapa bulan terakhir ini saya mendapat amanah dari USDI ITB untuk menjadi   team leader yang mengerjakan sebagian perangkat lunak di proyek IMHERE di ITB.   Saya sendiri gak terlalu mengerti apa itu IMHERE, jadi seringnya saya bikin pelesetan: “I’m here, you’re there“. Yang jelas IMHERE itu ada hubungannya dengan DIKTI dan World Bank.

Selama ini saya membuat software untuk mengimplementasikan konsep kecerdasan tiruan (Artificial Intelligence), konsep Complexity/Chaos, dan sebagainya yang   mirip-miriplah. Konsep dibuat sendiri, teorinya bongkar-bongkar dari paper orang   lain, desain utak-atik sendiri (yah ada lah diskusi dengan dosen pembimbing   ataupun kolega ), dan ujung-ujungnya software dibuat sendiri. Kalau perlu hardware ya disolder juga sendiri. Intinya saya biasa single fighter, kalaupun kerjasama paling jadi kacung kampret🙂.

Nah pada kerjaan IMHERE ini mendadak saya jadi team leader. Keren amat deh posisinya. Kalau ikut kebiasaan sebelumnya, kalau saya kerjakan sendiri softwarenya sih bisa saja, asik-asik saja, tapi masalahnya:

  1. Kalau dikerjakan sendiri, nanti kerjaan saya yang lain terbengkalai. Mengajar, meneliti, jadi ayah, jadi suami, dan sebagainya.
  2. Para programmer yang sudah diletakkan di tim saya akan jadi penganggur tulen.
  3. Kapan lagi bisa mencoba jadi Project Manager (PM)

Akhirnya saya coba belajar menjadi PM: bikin desain global, koordinasi dengan atas bawah kiri kanan,  bagi-bagi kerjaan, monitoring pekerjaan, memimpin rapat, dan seterusnya. Yang jelas tidak ada coding. Awalnya kagok, tapi akhirnya terbiasa juga.

Pengalaman yang saya dapat sejauh ini:

  1. Jadi pemimpin musti sabar, terutama ke anak buah. Jadi pemimpin pantang marah.
  2. Dengan orang yang di posisi atas dalam struktur musti taat dalam perkara teknis, walaupun orang tersebut seumur/selevel. Biar bagaimanapun struktur yang di atas punya tanggung jawab lebih, dan juga informasi lebih.
  3. Musti banyak membina hubungan dengan orang di posisi atas, posisi kiri kanan (yang selevel) , dan posisi bawah (anak buah).
  4. Walaupun jago programming , kalau tidak dapat berkomunikasi dengan pihak lain susah untuk membawa kemajuan di tim.
  5. Dalam kerja tim, ada kabar buruk lebih baik daripada tidak ada kabar sama sekali. Tentunya lebih baik lagi kalau ada kabar baik.

Alhamdulillah sejauh ini pekerjaan tersebut masih dapat ditangani oleh tim saya. Moga-moga dapat memenuhi deadline pekerjaan 30 April 2008.

6 thoughts on “Jadi Team Leader

  1. sukses sukses
    yang sabar kalo jadi Team Leader🙂
    jadi jempatan antara tim teknis dan pemberi tugas.

    kalo sudah menjelang due date, siap-siap turun gunung menemani programmer

    kalo sudah selesai; jangan lupa traktir saya pizza hut yang ada nanasnya *nyam nyam*

  2. belum selesai pak😀 masih banyak si yang gagal >_<

    saya usahakan membuat data untuk memfasilitasi naruh role user di SI sehingga tidak lagi menyimpan di SI masing-masing, melainkan terpusat

    hem.. kalo butuh bantuan untuk pasang di tiap SI bilang ya pak🙂

  3. Ping balik: Software redmine untuk project management « Waskita Adijarto

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s