Poligami KH Ahmad Dahlan

K.H Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) mempunyai lebih dari 1 istri, sebagai berikut

  • Siti Walidah (sepupunya, dikenal sbg Nyai Ahmad Dahlan).
  • Nyai Abdullah (janda H. Abdullah).
  • Nyai Rum (adik Kyai Munawir Krapyak).
  • Nyai Aisyah (adik ajengan Penghulu Cianjur).

Orang yang membikin biografi KH Ahmad Dahlan merasa perlu untuk menambahkan analisa bahwa poligami perlu untuk KH Ahmad Dahlan tapi tidak perlu diterapkan di zaman ini:

Jika dilacak pada tradisi keluarga-keluarga santri atau Kiai kala itu, memang demikian yang sering terjadi. Kini, konteks dan tuntutannya menjadi berbeda, yang dapat menjadi kontroversi di sebagian kalangan kaum muslim serta tidak dapat dijadikan pola saat ini.

sumber: “AHMAD DAHLAN SANG MUJADIDhttp://suara-muhammadiyah.com/2009/?p=1172

Beberapa catatan mengenai keturunan KH Ahmad Dahlan:

About these ads

8 thoughts on “Poligami KH Ahmad Dahlan

  1. Kalau Prof. Winai Dahlan (Ketua Halal Centre dan Dosen Food Processing Dept., Chulalongkorn University, Thailand), itu cucu dari Istri yang mana Pak?

    menurut keterangan Prof. Winai (Adiknya ada juga yang jadi dosen di Prince Songkhla University), merupakan putra dari putra KHA Dahlan atau cucu KHA Dahlan, yang tidak bisa pulang ke Indonesia th65, setelah belajar di Mesir.

    • Mas Gua Kalur,
      Memang sejarah mencatat demikian tentang Eyang Djumhan Dahlan (Irfan Dahlan). Cukup menyakitkan bagi keluarga, dan Muhammadiyah terkesan cuci tangan. Membiarkan fitnah atas eyang Jumhan tersebar di seluruh dunia selama 89 tahun tanpa ada usaha klarifikasi. Bahkan sebagian anggota yang senior juga mempercayai fitnah tersebut. Padahal 90 tahun yang lalu justru PP Muhammadiyah sendiri yang mengutus eyang Djumhan untuk belajar ke Lahore.
      Secara off the record kami menyetujui bahwa eyang Djumhan adalah korban intrik salah satu saingannya yang tidak ingin eyang Djumhan kelak yang memimpin Muhammadiyah, karena pesaingnya ini jelas kalah secara garis keturunan, selain kalah jenius. Dan sejak itu terjadilah gap antara keturunan KHA Dahlan dengan kepengurusan Muhammadiyah. Banyak keturunan KHA Dahlan yang kemudian tidak mau peduli dengan Muhammadiyah. Ada beberapa keturunan yang masih aktif, tetapi tidak memegang posisi penting di dalam Muhammadiyah.

      Namun dengan seiringnya waktu, kader-kader Muhammadiyah saat ini mulai menghendaki kami (para keturunan KHA Dahlan) untuk kembali terlibat dalam Muhammadiyah. Mungkin ini akan menjadi awal kebangkitan kami untuk kembali membesarkan pergerakan yang kakek dirikan.
      Apalagi setelah ada klarifikasi dan permohonan maaf secara tertulis dan lisan oleh pihak Ahmadiyah Lahore dan Indonesia, dan mereka berjanji tidak akan menyebut lagi eyang Irfan/Djumhan sebagai anggota mereka dalam propaganda mereka di dunia. Untuk kesepakatan ini saya pribadi menghaturkan banyak terima kasih kepada sejarawan LIPI, bapak Nadjib Burhani, yang bersedia mempertemukan kami dengan pihak Ahmadiyah dan mengklarifikasi semua fitnah ini.

      Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Jalan hidup setiap orang sudah digariskan di Lauhul Mahfudznya. Demikian juga dengan garis kehidupan eyang Djumhan. Seandainya eyang Djumhan tidak mengalami semua ini, mungkin tidak akan ada keturunan KHA Dahlan di Thailand, bukan? :)
      Kami sudah ikhlas menjalaninya. Bagaimana pun kami lahir dari pendiri Muhammadiyah, maka kepada Muhammadiyah pula lah pada akhirnya kami menghabiskan pengabdian kami kepada umat… :)

  2. Saya adalah salah satu cicit KHA Dahlan, dari putri bungsu beliau (dari pernikahan beliau dengan Nyai Haji Ahmad Dahlan-Istri pertama), yang bernama Siti Zuharoh, yang menikah dengan seorang ulama dari Banjarmasin dan masih keturunan dari Syeh Al-Banjari.

    Prof. Winai Dahlan itu adalah paman saya, beliau putra dari putra KHA Dahlan (dari pernikahan beliau dengan Nyai Haji Ahmad Dahlan), yang bernama Jumhan. kakek Jumhan adalah kakak dari nenek saya.

    Mohon juga untuk diralat, karena sepengetahuan keluarga besar kami, istri KHA Dahlan hanya 4. Kami tidak mengetahui siapa Nyai Yasin dari Pakualaman.
    Kalau penulis menyatakan istri kelima beliau adalah valid, mohon dibuktikan kepada keluarga besar kami, melalui Yayasan KHA Dahlan di Yogyakarta.

    Anyway, keluarga besar kami semua rukun, baik dari istri pertama, kedua, dan keempat (dari Nyai Rum, kakek buyut kami tidak memperoleh keturunan). Setiap beberapa bulan sekali selalu ada pertemuan keluarga. Keluarga yang mampu menolong keluarga lain yang kurang mampu, dst.
    Saya pikir, keberhasilan poligami itu tergantung pada Imam-nya. Jika sang Imam adil, maka keluarga akan tetap harmonis dan rukun hingga ke anak cucu cicit canggah, seperti keluarga besar kami. :)

    Terima kasih.

      • ga usah pada bahas Poligami KH Ahmad Dahlan sb hal tsb wajar pada zamannya, yg perlu di TEGAS kan adalah sampai dimana PENGHARGAAN & PENGHORMATAN Muhammadiyah Kepada beliau KH Ahmad Dahlan?????????????????????????????? Sejarah mencatat Eyang Irfan Dahlan meninggal sangat mengenaskan?? padahal beliau orang saleh, alim, jenius, dimana Muhammadiyah kala itu?????????????????????? Juga kenapa ajaran2 KH Ahmad Dahlan banyak yg berubah setelah AR Fahrudin??????

  3. “poligami perlu untuk KH Ahmad Dahlan tapi tidak perlu diterapkan di zaman ini” Menurut kami anda keliru, poligami jelas diperuntukkan bagi umat manusia, hingga akhir zaman, seperti tertera pada QS.4:3. perlu atau tidak perlunya poligami, yang jelas alQura’an diturunkan sebagai pedoman umat yang bertaqwa”Huda lil muttaqin”, Sukron wa jazakumullah.

  4. Poligami adalah tuntunan dari Alqur’an yang jelas boleh dan Halal. seperti sebuah makanan yang halal boleh di makan. hanya saja tidak semua orang bisa melakukan hal itu seperi tidak semua orang bisa makan makanan yang halal sesuai keinginan. bisa saja karena tidak mampu membeli, atau dilarang makan karena punya penyakit tertentu. yang justru dilarang adalah Selingkuh, sama dengan larangan makan makanan yang haram. dengan konsekwensi yang tentu berbeda antara poligami dan makan..Bila alasannya nafsu, syahwat maka Islam memperbolehkan nafsu dan syahwat bahkan mengharamkan mengebirinya asalkan di jalan yang Halal bukan di jalan yang haram. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s