Satrio Piningit dan Ratu Adil versi Bani Israel
Ditulis oleh waskita di/pada April 25, 2008
Catatan: tulisan di bawah ini bukan 100% tulisan saya, melainkan adalah modifikasi dari tulisan kawan saya, Adnan Basalamah. Moga-moga tulisan ini dapat lebih menjelaskan pengertian konsep Satrio Piningit dan Ratu Adil.
Dalam kisah zaman dulu, sering terjadi suatu kaum yang tertimpa masalah besar. Pada akhirnya masalah tersebut hanya dapat diselesaikan di bawah seorang pimpinan yang bertaraf Nabi, Rasul atau pemimpin yang ditunjuk oleh Nabi/Rasul. Nabi/Rasul jelas ditunjuk oleh wahyu melalui malaikat Jibril, sedangkan jika pemimpin tersebut ditunjuk oleh Nabi/Rasul, pada hakekatnya Nabi/Rasul tersebut mendapat wahyu dari Allah untuk menunjuk pemimpin tersebut.
Dari fakta sejarah tersebut nampak bahwa pemimpin kebenaran ditetapkan oleh wahyu dari Allah, bukan hasil pemilihan rakyatnya. Malah yang lebih sering terjadi adalah kebanyakan rakyat tidak memilih pemimpin tersebut, rakyat malah lebih cenderung menolak pemimpin tersebut.
Kisah Nabi Samuel menunjuk pemimpin
Sebagai rujukan, ada sebuah sebuah kisah dalam Al Quran yang menceritakan tentang hal ini. Diceritakan dalam Al Baqarah 246 : “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang dibawah pimpinannya di jalan ALLAH”. Nabi mereka (Nabi Samuel) menjawab, “mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab : “Mengapa kami tidak mau berperang padahal kami sesungguhnya telah diusir dari kampung halaman kami dan anak anak kami”. Maka Tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja diantara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang orang yang zalim“.
Ayat ini menceritakan kondisi Bani Israil setelah jaman Nabi Musa, ketika mereka dijajah oleh sebuah bangsa yang sangat perkasa, yang dipimpin oleh seorang raja yang sangat perkasa dan berbadan tinggi besar, yang bernama Jalut (Goliath). Bani Israil tidak berdaya melawan bangsa tersebut, mereka terusir dari tanah mereka, dan mereka pun akhirnya mendatangi Nabi mereka, yaitu Nabi Samuel, untuk berdoa kepada Tuhan agar diturunkan seorang pemimpin, (Satrio Piningit versi Bani Israel). Ini adalah karakteristik umum manusia, mereka baru ingat kepada Tuhan ketika kondisi mereka sudah sangat terdesak. Inilah juga sebab mengapa istilah Satrio Piningit selalu populer ketika suatu bangsa dalam keadaan kesulitan luar biasa.
Walhasil, nabi Samuel pun berdoa kepada Tuhan. Doa ini dikabulkan, dan Tuhan wahyukan bahwa pemimpin itu, Satrio Piningit itu, adalah Thalut, Seorang lelaki sederhana dari pedesaan, berbadan kekar dan tegap, yang berprofesi sebagai petani. Pendeknya, dia adalah orang biasa.
Thalut ditolak para pemuka
Kemudian apa yang ditakutkan Nabi Samuel di ayat diatas menjadi kenyataan. Pemuka-pemuka bani israil menolaknya. Mereka berkata “mana mungkin seorang petani biasa menjadi pemimpin bagi kami kami yang bangsawan dan berpendidikan tinggi dan jenius ini“. Thalut ditolak karena dia dianggap orang biasa. Padahal Tuhan sudah menunjuknya.
Inilah Kisah Kepahlawanan
Thalut yang perkasa
Bukan Nabi bukannya Rasul
Tapi, pilihan TUHANBani Israil, Mereka ditindas, Jalut (Goliath) yang sangat kejam
Mereka memohon
Kepada TUHAN
Datangkan penyelamat..
Nabi Samuel?
Mendapat wahyu?
TUHAN kabulkan permohonannya
Ditunjuk Thalut
Tapi Ditolak KARENA ORANG BIASA
Thalut tetap berjuang
Walaupun golongan atas menolak kedatangan Thalut, masih banyak juga golongan bawahan yang menaruh harapan padanya. Awal awalnya, pengikut Thalut, sang Satrio Piningit ini ada 80000 orang. Tetapi Tuhan tidak membiarkan Jamaah orang pilihannya tanpa ujian. Sedikit demi sedikit pengikut Jamaah Thalut ditapis, di saring, di uji dengan berbagai ujian. Salah satu ujian yang terkenal adalah ketika mereka hendak berjalan menuju medan peperangan, melewati padang pasir, sampailah mereka di sebuah sungai. Thalut berkata, “hendaklah kamu tidak minum dari sungai itu kecuali seteguk saja“. Tetapi banyak anggota jamaah Satrio Piningit ini yang melanggarnya, mereka bahkan mandi mandi di sana, bahkan ada yang merencanakan untuk tinggal dan berkebun di sana, instead of ikut dengan Thalut dan berperang. “Sudahlah, kita tinggal saja di sini. Di sini nikmat, kita bisa bercocok tanam, sedangkan kalau kita ikut Thalut, belum tentu kita menang melawan Goliath yang raksasa itu”. Maka tertapislah Anggota Jamaah ini tinggal 313 orang saja. Persis seperti jumlah tentara Badar.
Medan Perang
Ujian datang
Tentara makin berkurang
Mereka menggigil
Ketakutan
Merintih pada Tuhan
Tiada di sangka
Tiada di duga
Tampillah seorang Anak
Dilempar batu
Tumbanglah Jalut
Dialah Daud namanya..
Thalut dan jemaahnya di medan perang
Sampailah mereka ke medan perang. Dan di medan perang itu, 313 tentara Tuhan yang berbaris dibelakang pemimpin yang ditunjukNYA, harus berhadapan dengan 200000 (ya.. dua ratus ribu) tentara pimpinan Goliath.
Manusia normal pasti sudah lari ketakutan pada saat itu. Karena mereka adalah orang yang sudah teruji, mereka tidak lari, hanya takut saja. Dan ditengah ketakutan mereka itulah, mereka merintih kepada TUHAN, pergantungan mereka kepada TUHAN luar biasa, karena tidak ada sesuatupun selain TUHAN yang bisa menolong pada saat saat seperti ini. Dan Tuhan Menunaikan Janjinya dalam Al Maidah 55 – 56: “Sesungguhnya pemimpin kamu itu ALLAH dan RASUL, dan ORANG ORANG MUKMIN yang mendirikan sembahyang dan yang membayar zakat. Mereka itu patuh dan rukuk. Barangsiapa menjadikan ALLAH sebagai pemimpinnya, Rasul sebagai pemimpinnya, dan Orang Mukmin sebagai pemimpinnya, itulah dia PARTAI ALLAH. Sesungguhnya PARTAI ALLAH itu pasti mendapat kemenangan.“
Daud mengalahkan Jalut (Goliath)
Pada saat itu Goliath berdiri di depan tentaranya, serta menantang nantang, siapa diantara tentara Thalut yang berani menantangnya duel satu lawan satu. Sombong dan Angkuhnya dia. Maka diatas Tapak Jamaah yang sudah dibangun oleh Satrio Piningit ini, Tuhan turunkan RATU ADIL. Muncullah seorang anak kecil berusia 12 tahun, menantang Jalut. Inilah dia Daud Melawan Jalut, David vs Goliath. Daud melempar batu, mengenai lutut Jalut, Jalut terjatuh, Daud pun maju mengambil pedang Jalut dan ditusukkan nya pedang itu ke tubuh Jalut. Jalut pun mati seketika.
Melihat seorang anak kecil 12 tahun mampu mengalahkan pemimpin mereka yang paling perkasa, tentara jalut pun berpikir : “Kalau seorang anak kecil saja bisa mengalahkan pemimpin kita yang paling perkasa, lalu bagaimana dengan abang abang dan paman pamannya yang berbaris di belakang sana itu ? Mesti habislah kita di bunuhnya..? Maka lari tunggang langganglah tentara Jalut. Dan Bani Israil menang tanpa berperang.
Itulah kisah Satrio Piningit dan Ratu Adil Bani Israel. Satrio Piningit yang bernama Thalut ditunjukkan oleh Tuhan, membangunkan tapak jamaah, mendidik anggotanya, Tuhan uji dia dengan berbagai kesusahan dan ujian sehingga hanya tinggallah sedikit orang saja. Dengan sedikit orang ini, dengan kondisi yang akal sudah mengatakan bahwa tidak mungkin yang sedikit ini menang melawan yang besar, Tuhan tunjukkan bahwa Kemenangan Bukan karena Jumlah, bukan karena banyaknya pemilih dan pemilu, bukan karena kekuatan senjata, tetapi Karena takwa kepada ALLAH. Taqwa itulah yang menjadi sebab TUHAN menurunkan bantuan. “Wallahu Waliyul Muttaqin“. Tuhan menjadi pembela bagi orang orang yang bertakwa.
Diatas tapak golongan yang sudah teruji inilah maka Tuhan turunkan Ratu Adil. Nabi Daud adalah Raja yang Adil. Ratu Adil tidak akan muncul kalau Jamaah Satrio Piningit nya belum wujud dan mencapai taraf taqwa.
Pada Ratu Adil, pada Nabi Daud inilah Tuhan beri kelebihan kelebihan. Suaranya begitu merdu sehingga gunung gunung dan burung burung bertasbih bersamanya. Dan Tuhan lunakkan besi untuknya sehingga dengan tangannya dia bisa membuat baju besi untuk melindungi diri dari serangan musuh. [Saba' : 10-11] Itulah mukjizat yang Tuhan Anugrahkan untuk masa itu.
Dan InsyaALLAH , dalam waktu yg tidak terlalu lama, Tuhan akan turunkan seorang Ratu Adil yaitu Imam Mahdi, Seorang Wali ALLAH dengan karomah yang sesuai untuk zaman ini.
Wabihi Wallahu Alam
Pemimpin yang ditunjuk melalui wahyu « Waskita Adijarto berkata
[...] yang ditunjuk melalui wahyu Posted April 26, 2008 Dari uraian surat Al Baqarah 246, pemimpin kebenaran adalah para nabi, para Rasul dan orang yang ditunjuk wahyu. Pada zaman ini [...]